hello hello hello =)

Selamat datang di blog pribadi saya- nikmati apa yang ada, dan tunjukkan pada dunia, kamu dan saya bisa tersenyum untuk hidup ini =)

Tayangan laman minggu lalu

Yakinkah bahwa blog ini asli dibuat oleh seorang pelajar amatir?

Pengikut

Rabu, 16 Maret 2011

cerpen- "MENGOYAK KELABU"

MENGOYAK KELABU
Oleh: Marieta P. Regina

Februari, 1991
Gani berlari sambil menggendong istrinya yang tidak sadarkan diri. Di umurnya yang baru 22 tahun, ia begitu takut akan kehilangan istrinya. Beberapa juru rawat terlihat panik ketika mereka melihat kondisi Mirna yang terlihat di ujung tanduk kehidupan. Gani dengan nafas terengah-engah berlari menyusul istrinya ke ruang UGD sambil sesekali memegang dadanya yang terasa sakit.
Gani memejamkan matanya ketika sang dokter tiba dan langsung memberikan pertolongan untuk Mirna. Ia terus menggenggam tangan istrinya, menguatkannya untuk bertahan hidup. Mirna meronta-ronta kesakitan. Berkali-kali ia menyebut nama Tuhan dan Gani. Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yang menggantikan hembusan nafas seseorang. Mirna telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Februari, 2000
”Selamat Ulang Tahun ya Kiara. Semoga panjang umur”celoteh seorang anak kecil riang sambil menyelipkan kado berpita ke tangan Kiara.
”Wah, makasih ya Lia, kadonya bagus banget. Itu ada kue, dimakan ya. Buatan aku sendiri lho”jawab Kiara tak kalah riangnya.
Namun, di balik matanya yang bulat ceria, ia mencari-cari sosok seseorang yang dirindukannya. Sosok yang sudah seminggu lebih tidak dia lihat. Yang berjanji siang ini akan datang ke acara Ulang Tahunnya yang ke-9.
”Kia, dimulai aja ya acaranya. Sudah banyak yang datang lho”Neneknya menatap Kiara setengah membujuk.
“Tapi..tapi..”
“Nanti pasti dia akan datang”
Dengan wajah polosnya, Kiara pun mengangguk. Ia mulai meniup lilin, diiringi lagu “Tiup Lilinnya” dari teman-temannya.
”Nah, potongan pertama untuk siapa Kiara?”tanya Neneknya.
Kiara menatap sekeliling. Ia tidak menemukan yang dicarinya. Dengan mata berkaca-kaca ia menjawab, ”potongan pertama untuk..sebenarnya untuk..untuk..”. Kiara mengelap air matanya,”tapi, dia..dia...Ayah nggak datang Nek..”.

Desember, 2001
”Gani, sampai kapan kamu akan begini? Menelantarkan anakmu sendiri? Menelantarkan anak Mirna?”geram Handi, ayah Gani.
”Tolong Papa jangan sebut-sebut anak itu Pa. Juga Mirna”jawab Gani sarat keletihan.
”Kamu benar-benar sudah keterlaluan Gani. Kiara anak kandungmu. Darah dagingmu sendiri”
”Tapi sayangnya aku tidak akan menganggapnya begitu”
”Mengapa demikian? Apa salahnya?”
”Papa tanya apa salahnya? Ia sudah mengambil Mirnaku! Cinta pertama dan terakhirku Pa! Ia yang menyebabkan kematian Mirna, lalu Papa suruh aku menyayanginya? Itu mustahil terjadi! Apa Papa nggak mengerti perasaanku? Papa tau apa Pa? Papa...”ucapan Gani terputus ketika sudut matanya menangkap Kiara yang berlari sambil mengelap matanya yang basah. Saat itu mata hatinya terbuka dan saat itu pula pertama kalinya ia merasa menyesal menyakiti Kiara.

Desember, 2001
KIARA HILANG! Dia tidak ada di kamarnya, di sepenjuru rumahnya, di sekolahnya, di tempat bermainnya. Dia tidak ada. Dia pergi.
Gani menyesal telah menyebabkan Kiara pergi. Dia telah menelantarkannya, menyakitinya. Gani mengkhawatirkannya. Gani mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menemukan anak semata wayangnya itu. Setelah 3 hari berlalu, ia menemukan Kiara di suatu tempat yang tidak dia pikirkan sebelumnya, makam Mirna. Selama 3 hari ini, rupanya ia mencari makam ibunya yang letaknya hampir 30 km dari rumahnya. Entah bagaimana caranya.
”Ki..Kiara? Kaukah itu?”Gani terbata-bata melihat putrinya duduk di samping nisan mendiang istrinya.
Gadis kecil berusia 10 tahun itu mendongak, matanya sembab. Wajah dan tubuhnya terlihat kotor. Matanya mengandung kesedihan mendalam. Ditatapinya Gani.
“Kia, kau kemana saja? Ayah cari-cari. Ayah mengkhawatirkanmu”Gani memeluk Kiara erat.
”Apakah Ayah mempedulikanku?” Gadis kecil itu tidak menolah dipeluk Gani, tapi ia tidak balas memeluknya. Padahal, pelukan Gani adalah sesuatu yang telah diimpikannya selama 10 tahun ia hidup.
Gani terperanjat. Iapun mulai menangis di bahu kecil Kiara. ”Ayah..maafkan Ayah, nak. Ayah, telah membuat kesalahn terbesar dengan menelantarkanmu selama ini. Maafkan Ayah”
”Tentu Yah, Ayah tidak usah sedih. Aku menyayangi Ayah, sangat..sangaat”jawab Kiara tersenyum bahagia.
”Kamu memang anak Ayah yang cerdas. Ayah bangga memlikimu, Ayah menyayangimu”kata Gani sambil melepaskan pelukannya dari Kiara.
”Ayah, apakah ini, makam Ibu? Apakah ini makam Ibu?”
”Ya, ini dia. Ibumu. Mirna”
”Ayah beruntung bisa memilikinya Yah”
”Memang kenapa sayang?”
”Tentunya ia Ibu yang luar biasa baik. Ia sudah merelakan hidupnya demi Kia. Ibu juga sudah memberikan Kia Ayah yang baik seperti Ayah Gani”
Gani menatap nisan istrinya pilu. ”Ya, ia memang baik amat baik. Mungkin ia sudah menjadi malaikat di surga sana nak”katanya sambil merawang langit biru. ”Tapi Ayah tidak sedih dengan kematian ibumu, sayang”
”Lho, kenapa Yah?”
”Karena ibumu memberikan malaikat kecil yang manis untuk Ayah. Malaikat cilik itu bernama Kiara Mirga Hendrawan”

April, 2008
”Ayah nggak suka si Beggy itu masuk rumah. Kalau dia mau kesini, di luar aja. Ayah nggak suka ada cowok masuk sembarangan”
“Kok Ayah gitu sih Yah? Beggy kan udah lama pacaran sama Kia, masa sampai sekarang Ayah nggak suka sama Beggy?”
“Karena Ayah cuman pingin yang terbaik buat kamu. Carilah laki-laki yang baik, dan nggak hanya dari fisiknya saja. Cari yang dari hatinya. Seperti saat Ayah mengenal Ibumu”

Juni, 2009
”Dan peringkat 1 Ujian Nasional Jurusan IPA SMAN3 SEMARANG angkatan 2006/2007 adalah...Kiara Mirga Hendrawan, dengan jumlah nem 39,4!”
Hati Kiara berbunga-bunga. Gani memeluknya erat sambil meneteskan air mata haru. Ia sangat bangga, perasaan bangga luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kiara maju dengan pandangan lurus ke depan diiringi sorak-sorai hadirin. Ia begitu bahagianya bisa mendapatkan piala dari Kepala Sekolahnya sebagai siswa peringkat 1 Ujian Nasional sesekolah. Bhakan rangking 2 se-Kabupaten. Gani berdiri dan memberikan tepuk tangan untuknya sembari sesekali mengelap air mata yang berlinang di pipi. Kiara tahu ia sangat bahagia dalam kehidupannya sekarang. Seandainya kebahagiaan ini bisa ia rasakan selamanyaaa....

2 Juli, 2010
Tiba-tiba Gani terjatuh dari kursinya. Dengan nafas tersengal-sengal ia berusaha memanggi nama putrinya. Tapi dadanya begitu sakit hingga ia tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian...
Kiara menjerit histeris kemudian pingsan ketika diketahuinya Ayahnya telah menghembuskan nafas terakhirnya karena serangan jantung yang sudah sejak remaja derita. Di usia Gani yang masih terbilang muda, 41 tahun, ia harus meninggalkan putrinya yang saat itu sudah menjadi seorang mahasiswi Kedokteran. Ia kalah dari berontakan jantungnya.

4 Juli, 2010
Kiara terduduk lemas di depan nisan milik Gani Hendrawan. Gani akhirnya dimakamkan di sebelah makam Mirna. Kiara hanya terdiam, membisu setelah satu jam memandangi nisan orang yang paling disayanginya.
Ia memutar balikkan kenangan masa silamnya.
Gani yang membenci Kiara, karena ia telah kehilangan Mirna karena melahirkan Kiara. Gani yang selalu tidak datang di pesta Ulang Tahun Kiara. Gani yang menelantarkan Kiara selama 10 tahun. Gani yang menyebutnya malaikat kecil. Gani yang selalu ketat mengawasi pacar-pacar Kiara. Gani orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untuk Kiara. Gani yang selalu menginginkan Kiara mengobatinya di kala ia sakit.
”Ayah..”panggil Kiara. ”Ayah, kenapa Ayah harus pergi secepat ini? Ayah belum lihat kan bagaimana aku memeriksa penyakit Ayah nanti? Mengapa Ayah tak mau menunggu sampai aku bisa mengobati Ayah?”
”Ayah, aku masih hutang denganmu kue potongan pertama di setiap Ulang Tahunku. Aku ingin beri ke Ayah tapi,..Ayah, apakah kau dengar, aku merindukanmu Yah..semoga engkau bisa menyusul Ibu di sana, di Surga. Aku yakin Ayah akan bahagia jika melihat aku bahagia kan, Yah? Aku janji akan lakukan yang terbaik selama hidupku. Ini semua untuk Ayahku, dan Ibuku, Pahlawanku”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar