hello hello hello =)

Selamat datang di blog pribadi saya- nikmati apa yang ada, dan tunjukkan pada dunia, kamu dan saya bisa tersenyum untuk hidup ini =)

Tayangan laman minggu lalu

Yakinkah bahwa blog ini asli dibuat oleh seorang pelajar amatir?

Pengikut

Rabu, 16 Maret 2011

cerpen- "2 TOPENG TERSENYUM PADAMU"

2 Topeng Tersenyum Padamu
Oleh: M.P.Regina IXA/19

Lesung pipit Sekar Mutiara mulai mengembang ketika pembagian rapor semester akhir ini. Tentu saja, tanpa perlawanan berarti, dia tetap berkuasa di tahta puncak ranking paralel. Dan lagi-lagi aku jadi yang nomor dua. Meskipun begitu, di antara kami lebih kental aroma persahabatan daripada persaingan.
Tapi di balik semua itu, Sekar yang telah kukenal selama 1 tahun ini mengalami hidup yang sulit. Almarhum kedua orang tuanya tidak meninggalkan apapun bagi hidup anak-anaknya. Hanya utang yang menumpuk yang beliau tinggalkan untuk Sekar, dan 2 adiknya yang masih kecil. Sebenarnya Sekar amsih mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama Mas Didit. Tapi, semenjak memutuskan untuk mencari pekerjaan di luar kota 2 tahun yang lalu, Mas Didit tidak pernah kembali lagi. Tanpa kabar.
Sekar dan adik-adiknya hanya tinggal di gubug pemberian Bu Ayu, tetangga mereka yang baik hati. Hidup mereka benar-benar hanya bergantung pada belas kasihan orang lain. Itu yang membuat aku semakin mengagumi Sekar.
Pulang sekolah itu, aku kembali berjalan kaki-ria bersama Sekar. Tidak sepertinya, aku adalah anak yang cukup beruntung. Orang tuaku berkecukupan dan untuk sekolah, aku hanya memikirkan belajar.
Setiap subuh, Sekar sudah harus bangun untuk membantu Bu Ayu memasak sarapan dan gorengan untuk dijual. Lalu sepulang sekolah, ia membantu menjualkannya dengan berkeliling ke rumah-rumah dan toko-toko. Malamnya ia masih mengurusi 2 adik kembarnya -Galih dan Ratna- yang masih berumur 3,5 tahun. Baru hingga larut malam, ia baru bisa berkonsentrasi dengan pelajaran sekolah. Kadang, jika Bu Ayu mengalami untung cukup besar, beliau membayarakan juga sekolah Sekar. Tapi bila tidak, Sekar harus menunggak iuran. Untuk membayar iuran sekolah dan hutang orang tuanya, kadang ia asesoris lucu-lucu yang ia buat sendiri. Betapa haru aku melihatnya ketika ia tetap tegar ketika iuran sekolahnya sudah menunggak 4 bulan. Ia tetap Sekar yang aku kenal, yang selalu tersenyum walau perih hatinya.
Siang itu, sepulang sekolah.
”Kar, hari ini laku berapa bandonya?”tanyaku.
”Laku 5 Ras. Lumayan, dapat 15 ribu hari ini. Bisa buat beli obat panasnya Galih, biar enggak repotin Bu Ayu terus”jawabnya tersenyum senang.
”Lho, memang Galih sakit? Sudah lama?”
”Lumayan, sudah 4 hari panasnya tidak turun-turun. Tapi baru hari ini aku ada uang buat beli obat”ujar Sekar murung.
Aku terbelalak. Lalu ku rogoh kantong rok sekolahku. Ada selembar Rp10.000,00 di sana. “Ini buat kamu. Sisa jajan seminggu”aku tersenyum kecil.
“Lho, Laras. Apa-apaan nih? Ini kan uang buat kamu tabung kan, nggak usah Ras, makasih”
“Nggak apa-apa. Aku masih punya uang buat ditabung lagi kok. Beneran, lagian aku juga belum pernah beli bando kamu kan..hehehe”
“Oh, naaaah gitu dong. Halal namanya. Mau warna apa? Tinggal 4 nih, ada pink, biru, coklat sama kuning. Mau yang mana?”tawar Sekar.
“Aku mau yang cokelat aja. Berapa? Rp10.000,00 boleh?”
”Hahaha..ngawur, ini harganya cuma Rp3.000,00 kali. Hahahaha”
”Oh gitu ya, yaudah kembaliannya kamu ambil deh. Oke ya? Awas kalau bilang enggak mau”
”Dasar kamu, keras kepala banget. Yaudah, makasih banyak ya Laras”
”Iya, sama-sama. Aku pulang dulu ya Kar. Daah..hati-hati”ujarku ketika kami sudah hampir sampai di gang menuju rumahku. Rumah Sekar masih sekitar 300 meter ke arah Barat. Kami pun berpisah disitu.
qqqqqqqqq

Hari itu Sekar tidak masuk. 2 hari kemudian papan absen tetap terhias dengan nama Sekar yang berketerangan Alpa. Begitu seterusnya hingga 4 hari ketika akhirnya Ibu Guru mengumumkan bahwa tidak ada lagi Sekar Mutiara di SMP kami. Aku terkejut. Apa maksudnya?
Siang itu, dengan berjalan kaki aku menyempatkan diri ke rumah Sekar. Baru 2 kali aku ke sini. Lingkungan pemukiman kumuh yang Sekar tempati, kurang membuat aku nyaman. Tapi aku bulatkan tekad untuk mengunjungi Sekar hari ini, harus.
Aku berdiri di depan pintu dan terus mengetukinya, namun baru 10 menit kemudian, Sekar membukanya. Matanya menatapku lurus. Matanya yang selalu berwarna, kali ini tertutup oleh kelopak matanya yang bengkak. Ia habis menangis. Pasti sesuatu yang amat menyedihakn telah terjadi padanya.
Aku menuntunnya untuk duduk di kursi panjang depan gubugnya. Matanya masih meneteskan air mata. Aku bingung apalagi yang harus kuperbuat.
”Ceritakanlah apa yang pingin kamu ceritakan”kataku setelah akhirnya aku bosan membiarkannya terus menangis.
Sekar mengangkat wajahnya, ”Mas Didit...Mas Didit, dia udah enggak ada lagi Ras...”ujarnya lirih.
Aku lemas. Walaupun belum pernah sekalipun aku mengenal Mas Didit, tapi dari cerita Sekar, aku tau, Mas Didit adalah seorang kakak yang tidak pernah tergantikan. ”Tapi bagaimana...bisa?”
”Mas Didit..dia kecelakaan setahun yang lalu, ketika akan kembali kesini. Ketika ia ingin..menunjukkan gaji pertamanya sebagai pekerja konstruksi..Tapi dia..Baru minggu lalu aku mengetahui kabar itu..”jawab Sekar lunglai.
Aku membiarkannya untuk menangis di bahuku. ”Lalu, kenapa kamu tidak sekolah lagi?”tanyaku akhirnya.
Sekar mengelap matanya yang basah. Mata itu memancarkan kesedihan yang mendalam. ”Bu Ayu..sakit keras. Tidak mungkin aku merepotkan beliau lagi...setelah ini, aku akan fokus bantu Bu Ayu jualan..”
Aku hanya bisa memeluk Sekar dan mengelus kepalanya. Sekar masih berusaha melebarkan senyumnya padaku ketika air mataku mengalir turun. Saat itu, Sekar seperti seorang anak kecil yang kelaparan. Pasrah, dan yang terpenting, kejamnya hidup ini membuatnya tak bisa lagi bersekolah.
qqqqqqqqq

Aku sebenarnya ingin membantu Sekar berjualan sore itu, namun Ibuku sudah marah-marah di telepon karena aku tidak langsung pulang ke rumah, tanpa izin pula.
Sekar...dia orang pertama yang membuatku terkagum-kagum. Di usia yang baru 14 tahun, ia begitu tabah dalam melanjutkan hidupnya. Lalu, apa yang bisa aku perbuat untuknya? Tak lama, ide cemerlang melintas di otakku, dan Yes!
` ”Ayaaaah...”seruku sewaktu Ayahku pulang dari kantor.
”Ya, Ras..Ayah pulang”
”Ayah pasti capek kan? Mau Laras pijet? Atau mau Laras bikinin kopi?”
”Duh..Duhh..tumben banget anak Ayah sebegini rajinnya..pasti ada maunya deh, ayo ngaku”sahut Ayah sambil mengacak-acak rambutku.
”Hehe..Ayah tahu banget sih..Ayah, Laras pingin minta sesuatu dari Ayah. Boleh nggak Yah?”
”Apaan sih Ras? Kalau yang sifatnya konsumtif enggak lho Ras..”
”Iya betul..”sahut Ibuku tiba-tiba sudah duduk di samping Ayah.
”Enggak Yah..ini, Laras pingin minta Ayah dan Ibu..jadikan Sekar..anak asuh Ayah...”
Ayah mengernyitkan dahinya. ”Maksud Laras?”
Aku lalu menceritakan panjang lebar mengenai Sekar dan meyakinkan Ayah dan Ibu bahwa ia layak untuk bersekolah lagi. Juga kuceritakan tentang Bu Ayu, tetangga mereka yang baik hati dan terbaring lemah untuk sekarang ini.
Ayah tersenyum,”Kalau itu mau Laras, Ayah setuju. Ibumu juga pasti setuju. Ya kan Bu?”
”Tentu. Apalagi kamu kan anak tunggal, mereka bisa tinggal disini. Ibu pingin mengurusi Galih dan Ratna..Bu Ayu akan Ayah Ibu bantu nantinya. Semuanya bisa diurus.”jawab Ibu meyakinkan.
Aku memeluk erat mereka berdua dan tak hentinya mengucapkan terimakasih. Lalu aku masuk ke kamar dan membayangkan betapa senangnya Sekar mendengar hal itu. Ia bisa kembali bersekolah, dan adik-adiknya bisa terurus dengan baik. Aku sudah tidak sabar untuk menyambut Sekar, Galih dan Ratna di rumahku esoknya. Sebagai saudara angkat.
qqqqqqqqq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar